Kamis, 03 April 2014

Ihram

Sebagian kita mungkin tersentak ketika memakai pakaian ihram. Pikirannya, imajinasinya, membayangkan bagaimana suatu saat saya mengenakan kain kafan. Atau ketika saya dikafani. Merasa satu kakinya meninggalkan dunia melangkah ke alam akhirat. Setiap orang, mau tidak mau, suka tidak suka, musti akan melepaskan dunia ini. Dengan demikian, melalui ibadah haji/umrah umat Muslim dilatih secara sadar untuk mengakui bahwa dunia ini hanya tempat sementara saja. Jadi ibadah haji/umrah adalah suatu metode yang menyentuh kesadaran eksistensial, bahwa dunia ini adalah tempat indekost.
Ketika kita mengenakan pakaian ihram, kita lepaskan semua label-label, semua keangkuhan, semua kebanggaan yang bersifat duniawi. Kita melepaskan semua itu, kemudian kita menggunakan kain kafan, dan pada saat itulah kita menyadari bahwa kita tidak mempunyai apa-apa yang akan kita banggakan sebagai bekal di hadapan Allah swt., kecuali amal saleh kita. Ketika semuanya kita lepaskan, yang tersisa pada akhirnya ialah hanya sesuatu yang melekat dalam diri kita, yaitu iman dan amal.

Thawaf

Legenda menyatakan bahwa yang mendirikan Ka'bah itu adalah Nabi Adam as. Jadi ketika Nabi Adam diusir dari surga dengan segala kesedihannya, ada satu yang paling disedihkan Adam. Yaitu, bahwa dia tidak lagi secara spiritual bisa mengikuti ibadahnya para Malaikat, berkeliling mengitari Singgasana Allah ('Arsy). Kemudian, konon, menurut legenda yang ditulis dalam beberapa kitab, Adam dihibur oleh Allah dengan dibolehkannya Adam membuat Ka'bah sebagai tiruan 'Arsy Allah itu. Dan Adam diperintah oleh Allah mengelilingi Ka'bah itu (thawaf). Jadi, thawaf itu adalah semacam cara ibadah menirukan Malaikat mengelilingi 'Arsy Tuhan. Dan ternyata, seluruh jagat raya ini melakukan thawaf. Misalnya, bulan thawaf mengelilingi bumi. Bumi thawaf mengelilingi matahari. Dan matahari dan seluruh familinya juga thawaf mengelilingi pusat dari galaksi. Dan galaksi-galaksi thawaf mengelilingi   pusat galaksi.
Dengan demikian, thawaf itu sebetulnya warisan dari Nabi Adam as., yang menirukan gerakan seluruh alam raya yang ada ini. Thawaf yang dilakukan seluruh alam ini merupakan pertanda bahwa semua makhluk itu harus tunduk dan patuh kepada Sang Khaliq. Karenanya, bila kita melakukan thawaf, seakan-akan kita menyatakan diri bahwa kita bagian dari seluruh jagat raya yang muslim, yang islam, yang tunduk dan patuh kepada Tuhan.
Singkat cerita, Ka'bah yang didirikan oleh Nabi Adam as dengan bahan-bahan sederhana, sehingga keeradaannya tidak bisa bertahan lama, hilang tertimbun pasir. Dan yang membangun kembali Ka'bah itu adalah Nabi Ibrahim dan putranya, Ismail. Lihat QS. Al-Baqarah: 127.

0 komentar:

Posting Komentar